L+

Kawanku yang satu ini takut akan gelap. Kurang tau apa sebabnya, yang pasti dia akan bergetar hebat jika gelap datang padanya. Dalam hidupnya dia harus selalu ditemani oleh cahaya. Dalam sinar cahaya itu, aku melihat senyum, semangat, cinta, kasih sayang, pengorbanan.

Ketahuilah wahai kawan, pagi ini aku rindu akan kehadiranmu. Ingin rasanya bersama-sama lagi merasakan nikmatnya lentog seperti pagi itu. Kebersamaanmu mungkin hanya sepanjang batang rokok. Tidak butuh waktu yang lama untuk menghabiskan sampai hisapan terakhir. Tapi, aku merasakan kecanduan oleh senyummu, kasih sayangmu. Dan aku tidak tahu sampai kapan aku melihat lagi senyum itu.


Mereka yang Mati Muda

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah yang berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda

[Soe Hok Gie]

Alangkah senangnya mereka yang mati muda. Kalau saja mereka masih hidup sekarang, pasti mereka akan muak karena dunia ini sudah sesak dijejali negeri-negeri theater. Negeri dimana para pemerannya sangat menjiwai akan sandiwara hidup. Entah itu sebagai penjilat yang santun, makelar yang dermawan, pencitra yang rupawan, atau apalah itu yang biasa mereka perankan.

Wahai mereka yang mati muda, sedang apa kau disana? Apakah kau disana sedang tersenyum. Hidup tentram dengan kedamaian yang dulu pernah engkau mimpikan. Sungguh aku sangat iri dengan mu, wahai mereka yang mati muda. Iri akan kemurnian hati yang tak pernah berujung.


7 Dosa Sosial

Berikut Mahatma Gandhi pernah berpesan pada bangsanya:

  • Perniagaan tanpa moralitas
  • Politik tanpa etika
  • Sains tanpa humanitas
  • Peribadatan tanpa pengorbanan
  • Kekayaan tanpa kerja keras
  • Pengetahuan tanpa karakter
  • Kesenangan tanpa nurani

Sosial tak ubahnya nilai abstrak antara mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Dimana kepuasan setiap insan manusia terletak disana. Dan yang akan mempengaruhi masyarakat atau orang banyak. Sosial juga memiliki tujuan yaitu mencapai kesejahteraan bagi setiap orang. Tapi, sejahtera tidak mengenal istilah untung atau rugi.

Saya tidak mafhum apakah dulu Mahatma Gandhi pernah mengirimkan “7 Dosa Sosial” itu ke email atau sekedar mengirim surat via pos ke bangsa saya. Oh, atau mungkin Mahatma Gandhi salah menuliskan alamat ke negara saya, sehingga email atau surat itu entah sampai ke negara mana.

Kalau Mahatma Gandhi mengatakan kejahatan seperti itu adalah Tujuh Dosa Sosial. Lalu hasil bumi negaraku yang hilang entah kemana, 32,5 juta rakyat miskin , Biaya pendidikan yang semakin mahal, Kriminalitas yang sudah menjadi kegemaran, Harga kebutuhan pokok yang terus naik, Ketidak tegasan hukum. Apakah semuanya itu termasuk “Dosa Sosial”?


Metamorfosis Tawa

Layaknya Animalia yang bermetamorfosis. Tak ubahnya dengan manusia yang mengalami perubahan. Janin menjadi bayi, bayi menjadi kanak-kanak, kanak-kanak menjadi dewasa dan selanjutnya menjadi tua. Duka dan Senang tidak pernah luput darinya. Akan ada saat-saat pada puncak dari keduanya. Tawa dalam keadaan kanak-kanak akan berbeda dengan tawa dewasa, tua.

Aku merasakan tawaku yang sangat. Tawaku saat bermain game poker dengan temen-temen. Tawaku saat melihat Bajil dibedakin sebagai pembuka dari hukuman akibat konsekuensi bermain game bagi yang kalah. Lalu tawa saat aku dibedakin untuk kloter yang kedua. Lalu tawa saat semua jamaah gamer berbedak ria.

hahahaha….

hihihihihi….

lalalalalala….

wakakakaka….

Semuanya begitu indah. Mungkin lebih indah dibandingkan nanti saat aku harus mengurus rumah tanggaku dan harus memberikan nafkah layaknya seorang kepala keluarga.


Iyum

Senyumnya sekarang menyusut: menguap berupa-rupa canda menjadi keseriusan. Aku mencoba membuatkan parodi atau sekedar berbagi senyum dengan perempuan itu. Berharap agar senyumnya yang menyusut itu bisa berseri kembali. Tapi, hal itu tidak berdampak besar baginya. Tiba-tiba ia berkata padaku, “Bolehkah kita saling bertukar kehidupan? hanya untuk sebentar saja.”

Serentak aku kaget atas tawarannya. Untuk sejenak aku diam, lalu menebak-nebak dalam batin apa yang menjadi tanda tanya pada kehidupannya. Apakah dia sedang mengalami broken home? atau sedang menghadapi masalah dalam karir cintanya? atau masalah-masalah lain? Sungguh aku tak tahu. Semuanya masih terlihat samar-samar bagiku.

“Halah lupakan saja, yang barusan hanya ngaco.” Sambil menutupi galaunya dengan sedikit senyuman.

“Ada apa dengan kehidupanmu?” tanyaku dengan serius.

“Gak usah dipikirin, aku hanya bergurau tadi.”

“Empat tahun, sudah lebih dari cukup untuk mengenal tabiatmu. Ada apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Perempuan yang bernama Iyum itu, dia perlahan-lahan mengatur bafas. Dari wajahnya terlihat jelas  sepertinya ia ingin meletakkan beban berat yang selama ini menindihnya.

” Aku sudah lelah dengan kehidupanku. Aku ingin istirahat sejenak.”

“Istirahat sejenak” Ucapannya itu kini membuatku membeku. Aku merasakan ngilu akan kehidupannya. Tanpa mengharap balasan, dengan senang hati aku akan meminjamkan punggungku untuk melepas tangisnya.

Mendengar kisahnya, saat awal kali Iyum harus menunda Hubungan Internasional dengan Univesitas Gadjah Mada. Kini harapan itu semakin menyempit seiring usianya yang mengikuti perjalanan hari. keadaan memaksanya untuk mencari satu demi satu butir butir beras di sebuah perusahaan optik yang berada di batam. Kemudian, belum lama ini ia menjadi dampak dari sebuah permasalahan keluarga walaupun tidak sedikitpun ia membuat kericuhan.

Sekarang ia sudah merasa lelah. Sejenak ia ingin meletakkan kehidupannya dan berharap ada angin bertiup yang menyapu debu-debu dalam kehidupannya.

“Bolehkah aku menukar kehidupanku?”

Kembali ia memintaku. Dan aku tidak bisa berkata. Hanya anggukan yang bisa aku lakukan. Tak tahu seperti apa kehidupan yang ia inginkan. Aku tak begitu memperdulikan itu. Aku hanya berharap, semoga senyumnya bisa kembali.


Potret 1

Potret ada kalanya terlihat manis, tapi bisa juga terasa pahit. Kali ini potret menusuk batin orang tua dikala sang anak tidak tahu menahu berapa beras yang didapat dari terik matahari di siang hari. Seakan aku kini masih merasakan betapa sembab perasaan orang tua itu. SMA Ceper waktu itu terdapat banyak sisi yang harus dipilih salah satunya untuk menentukan setiap sikap.

Potret, ketika pagi hari terlihat berbondong-bondong para pencari ilmu mengayuh sepeda, menapaki jalanan sawah, berdesak-desakan dengan penumpang angkot, atau melajukan motor sebelum bel sekolah jam 7 berbunyi. Semuanya terlihat wajar. Hanya sebagian orang yang akan menganggapnya kurang wajar bagi mereka para pemalu, mereka yang dikendalikan oleh lingkungan yang salah. Waktu itu mereka salah mempelajari etanol. Setau mereka etanol hanyalah alkohol yang layak minum. Ber-imbas dari itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan membolos, pacaran, pidana terhadap peraturan sekolah, adalah hal yang lumrah. Mereka mungkin menganggapnya lumrah jika seorang anak mengancam tidak akan masuk sekolah jika tidak dibelikan sebuah sepeda motor.

Hanya satu yang terfikir oleh ku. Jika itu adalah aku, kelak seperti apa aku diberlakukan oleh anak ku nanti. Astaghfirullahal azim….


Darah Juang

Waktu itu -Darah Juang- melantun dari kamar kost sebelah.

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami
untuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji
padamu kami berbakti

untuk membebaskan rakyat