Category Archives: ReNunGAn

Choice

You are free to choose it
Black or White or Gray
But I know there’s nothing middle


Idealism to the Job

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan dan ilmu bertambah apabila dibelanjakan        [Ali Bin Abi Thalib]

Wahai mahasiswa penganut paham Grade Point Oriented, apa yang kau cari dari kuliah? kalau kau menjawab ilmu, kenapa engkau beri patokan point-point dari setiap ilmu yang kau pelajari? apa kau takut tidak mendapat pekerjaan yang layak setelah kau lulus nanti?

Wahai para sarjana muda:

  • Tahukah kau, jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2010 sebesar 31,02 juta jiwa dengan penghasilan ekonomi rata-rata Rp. 211.726,-/bulan?
  • Tahukah kau, bahwa hukum sekarang mempunyai bidang kerja baru yaitu Makelar Kasus?
  • Tahukah kau, bahwa di negeri agraris ini, petani tidak pernah merasakan hasil panennya?

Hakikat dari sebuah ilmu bukanlah selembar kertas ijazah yang dapat menghasilkan gaji jutaan rupiah, tapi berapa banyak rupiah yang bisa diupayakan dalam membantu kesejahteraan mereka. Wasiat dari gelar kesarjanaan bukanlah untuk sebagai sanjungan dikalangan mereka, tapi sebagai pemimpin mereka yang tak tahu apa-apa agar menjadi tahu apa-apa.

“Rasa-rasanya, tiada yang lebih puitis dari sebuah ilmu selain pendewasaan diri. Karena diri yang dewasalah yang akan membawa kedamaian dalam hidup”


I’m Only Alive Today

“I’m only alive today. Yesterday is past and tomorrow is not necessarily occur. So, I don’t care what people say about me. I’m just trying to be better in order to achieve pleased Allah SWT”

Hidup ku tidak akan aku gadaikan kepada siapapun kecuali kepada Alloh yang menciptakan aku. Bahkan akan aku berikan lebih, akan aku berikan hidupku secara cuma-cuma kepada-NYA tanpa ada angsuran bulanan dan uang muka sedikitpun. Karena aku menyakini bahwa aku adalah milik-NYA.

Berjalan bersama-NYA jauh lebih utama dibandingkan melademi debat kusir dengan setan jalanan.  “So, I don’t care what people say about me” bukan berarti aku egois atau muak dengan mereka, tapi mereka adalah sumber ilmu bagiku dalam hal kebaikan. Sungguh, hidup di bangsa ini jauh dari negeri china dimana kata orang disanalah tempat akhir menuntut ilmu. Sebuah pertanyaan, apakah yang akan kamu kerjakan jika kamu hanya hidup hari ini saja? dan pilihan hidup di dunia ini hanya ada dua: “goodness or badness”.

Jika anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa anda harus bersedih atas air asin yang anda minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan panas esok hari yang belum tentu terjadi? [La Tahzan]

Aku sangat alpha apakah nanti setelah aku mati akan berada di surga atau neraka. Aku tidak memikirkan itu, karena aku tidak bisa mengubah apa-apa jika Alloh menghendakiku besok/nanti aku akan mati. Yang bisa aku lakukan hanyalah mengabdi kepada-NYA tanpa batas dengan segala kemampuanku. Masalah surga atau neraka, itu sudah diluar keputusanku.


Mereka yang Mati Muda

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah yang berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda

[Soe Hok Gie]

Alangkah senangnya mereka yang mati muda. Kalau saja mereka masih hidup sekarang, pasti mereka akan muak karena dunia ini sudah sesak dijejali negeri-negeri theater. Negeri dimana para pemerannya sangat menjiwai akan sandiwara hidup. Entah itu sebagai penjilat yang santun, makelar yang dermawan, pencitra yang rupawan, atau apalah itu yang biasa mereka perankan.

Wahai mereka yang mati muda, sedang apa kau disana? Apakah kau disana sedang tersenyum. Hidup tentram dengan kedamaian yang dulu pernah engkau mimpikan. Sungguh aku sangat iri dengan mu, wahai mereka yang mati muda. Iri akan kemurnian hati yang tak pernah berujung.


Darah Juang

Waktu itu -Darah Juang- melantun dari kamar kost sebelah.

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
Bunda, relakan darah juang kami
untuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji
padamu kami berbakti

untuk membebaskan rakyat


Hewan

Selamanya aku tidak akan sejenis dengan mereka. Demi Tuhan, aku akan tetap berbeda. Aku adalah aku. Dan mereka adalah mereka.

Aku adalah anjing. Mereka biasa menyuruhku untuk mengejar buronan maupun mencari narkoba yang tersembunyi. Kadang sebagian dari mereka sering menyebut namaku, tapi tidak untuk memanggilku (“Hey…. anjing loe…!!!! bla..bla..bla”). Kenapa mereka sambil marah ketika menyebut namaku? dimana salahku?

Aku adalah kambing. Aku bisa memberikan mereka daging, susu maupun wool. Hanya saja sekarang aku dalam kebingungan. Sepertinya aku tidak pernah tinggal di pinggiran jalan kota-kota. Tidurpun di depan ruko aku tidak pernah. Lalu kenapa mereka menuduh sebagian dari mereka sendiri dengan sebutan gembel? bagaimanapun mereka, mereka adalah sejenis.

Aku adalah ayam. Aku mempunyai andil yang cukup besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Sekitar 70% kebutuhan akan protein hewani dari yang mereka butuhkan, aku telah menyediakan untuk mereka. Merekalah yang sebenarnya mengenyam kehidupan kampus, bukan aku. Tetapi kenapa namaku selalu menjadi sesuatu yang berbau konotasi tatkala mereka menyebut ayam kampus.

Aku adalah sekawanan hewan. Aku diciptakan oleh Tuhan untuk membantu kehidupan manusia. Mengatasi bencana kelaparan. Membantu menegakkan keadilan hukum. Hanya itu yang bisa aku perbuat untuk mereka. Tapi apa maksud dari kata-kata mereka: anjing, bajingan, gembel, babi, ayam kampus, kebo, tikus, buaya atau bla..bla..bla antah barantah yang mereka sebutkan itu?


Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Sebuah Film yang mengajarkan kita Kepedulian Sosial

Aku suka dengan seni. Karena orang-orang yang mengabdikan hidupnya di bidang seni secara benar-benar, mereka telah memberi warna pada dunia. Semalam aku baru saja menonton film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” karya dari Deddy Mizwar. Disitu diceritakan kehidupan di Indonesia yang serba kesemrawutan. Muluk (seorang sarjana Ekonomi Manajemen) sibuk mencari kerja tak karuan. Kerjaan yang dirasa begitu sulit untuk didapat, muluk bertemu dengan copet pasar dan berniatan untuk mengubah manajemen hidup pencopet itu ke jalan yang benar. Disana muluk membawa teman sekampungnya Syamsul (sarjana Pendidikan) yang tidak percaya lagi dengan pendidikan dan Pipit (anak dari ustadz di kampungnya) untuk membantu niatannya itu.

Kawanan pencopet diubah hidupnya oleh muluk akan tetapi dengan modal uang yang didapat dari hasil mencopet. Muluk, Syamsul dan Pipit mengajarkan pada mereka pendidikan dasar dan ilmu agama. Alhasil kawanan pencopet itu berfikir dan sebagian dari mereka beralih profesi menjadi pedagang asongan. Akan tetapi ayahanda muluk (Deddy Mizwar) setelah mengetahui pekerjaan anaknya itu, sang ayah tidak merestuinya. Dan saat pencopet itu menjajakan dagangannya mereka dikejar-kejar satpol-PP akan tetapi muluk berhasil mencegahnya dan muluklah yang ditangkap oleh satpol-PP itu.

Tulisan saya diatas memang dirasa hanya biasa-biasa saja. Saya melihatnya Deddy Mizwar banyak memberikan banyak pertanyaan dari filmnya.

  1. Muluk, Syamsul dan Pipit bukanlah orang yang kaya. Salahkah dia menyadarkan kawanan pencopet itu kembali di jalan yang benar akan tetapi modal yang mereka punya hasil dari mencopet?
  2. Setiap orang memiliki keinginan untuk lebih baik, karena setiap orang memiliki kalbu. Bagi pencopet itu, hanya dari mencopetlah mereka mempunyai penghasilan, karena awalnya mereka sangat awam sekali untuk berubah apalagi mencari rejeki yang halal untuk memulai hidup yang lebih baik. Apakah pencopet itu tidak boleh untuk menentukan nasibnya sendiri? Dimana peran pemerintah di negeri ini?
  3. Setelah pencopet itu sadar, pencopet itu harus berjibaku melawan satpol PP untuk menyelamatkan hidupnya. Dimanakah keadilan di negeri ini?