Category Archives: Potret

Cha’05

Kamis malam tepatnya pukul 20:57 WIB, tanggal 24 Maret 2011, sebuah short message bertandang ke handphone ku. Aku mengetahui kedatangannya, kemudian aku mencari-cari kunci handphone ku yang aku taruh dalam tombol menu dan bintang (*). Tak lama kemudian, inbox handphone ku buka dan short message muncul lalu membisikiku melalui tulisan yang isinya mengenai tentang agama. Aku tidak berkenalan dengan nomor yang menulis short message itu, karena aku mengiranya short message itu berasal dari langganan tausyiah ku (Aa’ Gym). Dua hari kemudian, nomor itu mendatangiku lagi dengan tema yang berbeda. Kali ini dia mengangkat isu tentang hacker di situs jejaring sosial (facebook). Pikirku, sejak kapan Aa’ Gym beralih profesi dari ustadz menjadi penyiar berita?

Hari itu juga aku putuskan untuk melawat ke nomor yang tak ku kenal itu. Sesampainya disana, aku menyamar seperti layaknya petugas sensus penduduk. Aku cukupkan banyak pertanyaan padanya. Setelah dirasa cukup, aku berlalu. Aku mencoba membuka-buka lagi data kependudukan pertemananku tahun kemarin, alhasil aku menemukan bahwa si-nomor bernama itu adalah teman kuliah ku.

==========================

Kejadian seperti hal biasa bagi setiap orang. Aku mencoba memahami maksud dari temanku itu. Teman ku ini telah berbaik hati dengan mengunjungiku untuk bersilturahmi. Sebenarnya, sewaktu kuliah aku kurang begitu akrab dengan teman ku ini. Karena kami beda angkatan dan beda pula dalam keseharian. Tapi, aku senang karena sudah mengetahui kabar baik dari seorang teman. Bagi sebuah pertemanan, kata: hey, halo, apa kabar, sudah lebih dari sekedar cukup untuk menjaga hubungan agar tetap baik. Sepertinya teman ku ini seakan sudah mengajariku bahwa sebuah persahabatan itu tidak butuh status sosial, pangkat, pendapatan ekonomi, golongan. Terima kasih teman, semoga kelak kita dapat berjumpa lagi dengan membawa kabar baik dari kita, Amin…

Iklan

Potret 1

Potret ada kalanya terlihat manis, tapi bisa juga terasa pahit. Kali ini potret menusuk batin orang tua dikala sang anak tidak tahu menahu berapa beras yang didapat dari terik matahari di siang hari. Seakan aku kini masih merasakan betapa sembab perasaan orang tua itu. SMA Ceper waktu itu terdapat banyak sisi yang harus dipilih salah satunya untuk menentukan setiap sikap.

Potret, ketika pagi hari terlihat berbondong-bondong para pencari ilmu mengayuh sepeda, menapaki jalanan sawah, berdesak-desakan dengan penumpang angkot, atau melajukan motor sebelum bel sekolah jam 7 berbunyi. Semuanya terlihat wajar. Hanya sebagian orang yang akan menganggapnya kurang wajar bagi mereka para pemalu, mereka yang dikendalikan oleh lingkungan yang salah. Waktu itu mereka salah mempelajari etanol. Setau mereka etanol hanyalah alkohol yang layak minum. Ber-imbas dari itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan membolos, pacaran, pidana terhadap peraturan sekolah, adalah hal yang lumrah. Mereka mungkin menganggapnya lumrah jika seorang anak mengancam tidak akan masuk sekolah jika tidak dibelikan sebuah sepeda motor.

Hanya satu yang terfikir oleh ku. Jika itu adalah aku, kelak seperti apa aku diberlakukan oleh anak ku nanti. Astaghfirullahal azim….