Category Archives: bi0grapHy

Sang Bulan

Malam ini langit sudah mendamaikan ku. Hati yang lelah dalam kerinduan yang sangat. Selayaknya skenario hidup yang sudah diatur, rupanya Tuhan telah menghiasi hidup ku dengan cahaya rembulan. Rembulan yang aku nantikan setiap malamnya. Sungguh aku selalu menantikan dan mencintai kedatangannya.

Ingin rasanya aku menjelma menjadi bintang. Menemani Sang Bulan di alam jagad raya. Layaknya memadu kasih di setiap keheningan malam yang damai. Malam ini, malam nanti, malam yang akan datang, dan malam-malam yang abadi.
Terima kasih Tuhan, Rembulan-Mu sungguh indah. Sang Bulan yang akan selalu aku cinta. Seindah pancaran sinarnya.


Orang Ke-2

Aku biasa menyebutnya Orang ke-2. Dia nampak hitam legam dalam siang maupun malam. Saat aku melihatnya, aku diam lalu tertunduk dan menangis dengan sebab. Aku terdiam oleh hari-hari terpurukku yang sudah tak berbilang lagi. Orang ke-2 itu menunjukkanku dengan jelas kritikan orang-orang, kebimbangan hidup yang tak mempunyai ketegasan, waktu yang terbuang dan matinya nurani, dan yang paling jelas adalah ketololan diri.

Beranjak dari Orang ke-2, aku mencoba mencari Cahaya. Lalu aku menyalakan Metro-TV dan menemukan pekikan “Tiada yang membaikan selain dengan kebaikan. Orang yang berjalan dalam kebaikan, berarti berjalan bersama-sama dengan Tuhan. Seterjal dan setinggi apapun perjalan itu, Tuhan pasti akan menolongnya, karena dia berjalan bersama-sama dengan Tuhan dan Tuhan menyukai perjalanan itu. Jika orang ingin terus bersama-sama dengan Tuhan, maka berbuatlah kebaikan“. Lalu aku menyalakan laptop dan bertemu dengan L+ disana. L+ membuatku iri akan perjuangannya yang tak kenal lelah dan tak kenal malu. Rutinitas selama 24 jam yang dimilikinya berbanding terbalik dengan rutinitas 24 jam ku. Cahaya itu kini telah membuatku lebih baik.

Setelah itu aku sadar, kalau Orang ke-2 adalah bayangan diri ku. Beruntung sekali aku, karena Tuhan telah mempertemukanku dengan Orang ke-2.


Metamorfosis Tawa

Layaknya Animalia yang bermetamorfosis. Tak ubahnya dengan manusia yang mengalami perubahan. Janin menjadi bayi, bayi menjadi kanak-kanak, kanak-kanak menjadi dewasa dan selanjutnya menjadi tua. Duka dan Senang tidak pernah luput darinya. Akan ada saat-saat pada puncak dari keduanya. Tawa dalam keadaan kanak-kanak akan berbeda dengan tawa dewasa, tua.

Aku merasakan tawaku yang sangat. Tawaku saat bermain game poker dengan temen-temen. Tawaku saat melihat Bajil dibedakin sebagai pembuka dari hukuman akibat konsekuensi bermain game bagi yang kalah. Lalu tawa saat aku dibedakin untuk kloter yang kedua. Lalu tawa saat semua jamaah gamer berbedak ria.

hahahaha….

hihihihihi….

lalalalalala….

wakakakaka….

Semuanya begitu indah. Mungkin lebih indah dibandingkan nanti saat aku harus mengurus rumah tanggaku dan harus memberikan nafkah layaknya seorang kepala keluarga.


Jeda

hari ini sudah jeda ternyata. tapi belum juga ada warna disana. hanya terlihat coretan-coretan yang tak beraturan. semuanya masih samar-samar. dalam samar-samar saja, abu-abupun tidak.

kata orang, jeda itu layaknya masa peralihan. jika ingin terlihat senyum di sore hari, maka jeda harus di atur dengan benar. bukan berarti harus merasakan sakit dahulu. jeda tidak seperti itu. jeda adalah sebuah rencana dan hanya tetap rencana. seperti kata kalayak orang-orang. bukan kata ku. tapi aku percaya itu semua benar. dan aku akan memberi hijau pada jeda ku. semoga saja aku bisa.


Surat Untuk Sahabat

Salam hangat untuk sahabatku. Beribu syukur aku panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan kasih sayang-Nya bahwa aku diberikan-Nya seorang sahabat sejati.

Awal aku mengenal dengan sahabatku ketika sama-sama berangkat kuliah dengan berjalan kaki. Kita sering berangkat dan pulang kuliah bareng. Kedekatan persahabatan kita dimulai ketika aku dijerumuskan untuk menjadi Ketua Pemira (Pemilu Raya) Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak Undip. Saat itu aku tidak mengerti apa-apa tentang caranya mengurus orang. Sungguh aku dibuat pusing saat itu, tapi dari situ aku merasakan ada sesuatu yang berharga dalam hidupku. Kemudian hubungan kita berlanjut sampai dengan sama-sama menjadi anggota BEM Fapet periode tahun 2006 dan 2007. Dengan begitu diam-diam dia menanamkan racun  idealism hidup untuk menjadi manusia seutuhnya. Aku ditunjukkan indahnya menolong antar sesama, keikhlasan, kesabaran, kesetiaan dan arti kejujuran. Dia pernah berkata “Teman sejati akan selalu ada disaat kita sedang senang maupun duka”. Dia membuktikan semuanya itu dengan membelikanku obat saat aku sakit, mengajakku makan saat aku kehabisan uang saku, membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliahku dan mengajakku jalan-jalan ke berbagai tempat. Sampai-sampai malaikatpun dibingungkan dengan masalah pembukuan hutang-piutang yang kami anggap sudah lunas walaupun kuantitas hutangku lebih besar dibandingkan dia. Sahabatku ini adalah orang yang pintar, tetapi dia rela menungguku selama satu semester agar dapat wisuda bersama. Jika diuangkan, berapa duit yang dia habiskan untuk membayar biaya kuliah satu semester, biaya hidup dan mungkin banyak lagi biaya yang lain yang aku tidak tahu. Hanya untuk seorang sahabat. Sekarang, akan ada rencana besar lain darinya untuk seorang sahabat. Akan ada berjuta-juta rupiah yang akan dia keluarkan untuk mengajarkan aku arti kemandirian dan menolong terhadap sesama. Aku yakin, dia pasti tidak akan terlalu memperdulikan itu karena dia hanya memikirkan bagaimana caranya kehidupannya bermanfaat bagi orang lain dengan salah satunya melalui aku.

Kebersamaan kita dulu sampai sekarang masih sangat terasa. Kita sering membeli buku di toko buku Gramedia ataupun Gunung Agung, tawaf saat malam minggu di Simpang Lima, nongkrong di angkringan sampai larut malam, diskusi permasalahan kemajemukan persoalan hidup manusia. Aku akan merindukan saat-saat itu bersama sahabatku. Pertemuan kita yang terakhir, dia berpesan kepadaku untuk jaga diri baik-baik. Hatiku mengatakan dia akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Pergi dari kehidupan persahabatan kita. Akan tetapi dia juga berjanji untuk menemuiku lagi entah kapan waktunya. Demi persahabatan kita, aku akan selalu mendoakan kepergianmu. Pergi untuk meraih cita-cita. Baik-baiklah disana. Aku akan menunggumu. Disini, sahabatmu akan selalu ada kapan engkau butuh. Selamat jalan sahabatku.

Salamku kepada sahabat sejatiku, Rizki Salaamun.


Kaliwungu, Kudus

Mbah sarni dan Tika, Ibu Sulipah, Lentog, Soto kerbau, Simpang tujuh, Menara kudus, Honocoroko dan ke-8 temen (Yogi, Ikhsan, Mamad, Nanda, Rena, Maya, Nat-nat dan Yuyun). Semuanya adalah kenangan waktu KKN bulan Januari-Februari 2009 kemarin. Aku merindukan kalian semua.

Sudah satu tahun lebih kita tidak satu atap lagi. Dan tidak akan mungkin satu atap lagi dalam waktu yang lama walaupun dipaksakan seperti apapun juga. Aku ingat betul buku diary desa kita, buku itu merupakan jembatan bagi kita untuk bertegur-sapa dan berkeluh kesah. Rena yang menggebu-gebu menumpahkan kekesalannya pada buku itu sewaktu lampu rumah mati (Yang sabar ya Ren, itu tandanya Negara ini membuktikan kalau masih peduli terhadap pemanasan global melalui program pemadaman listrik bergilir). Kordes yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu pada teman-temannya (Temen-temen Amyaw, besok ngajar WB lagi nyok, trus jalan-jalan deh, hehe). Korcam yang sebenarnya pengen berpesan (Besok kalau bangun pagi ya, ntar goreng pisang gi, hmmm… nyam….3x). Yuyun yang selalu kelihatan ceria, tapi dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu buat mbah sarni (Mbah Sarni, maapin yuyun ya, suara yuyun selalu menemani embah bobo). Maya yang energik (Hey mad ma nanda, awas ya kalian. ntar ga tak ajak senam di balai desa lagi). Mamad yang mendapat kenalan baru (Amyaw, kenapa engkau mengunjungiku melalui pesawat telephon saja). Natali yang suka menyanyi (Yog yog, besok agenda kecamatan apa lagi?). Nanda doyan banget tidur (Gung, ntar pasang alarm jam 3 pagi ya, aku pengen bangun pagi-pagi, hehe). Dan tidak ketinggalan aku (Temen-temen, Agung balik dulu ke semarang ya, jaga rumah baik-baik, hehehehehe).

Temen-temen pasti akan mengingat itu semua, dan mbah sarni mungkin sekarang menanyakan temen-temen semua. Dimana kalian cu, tapi kok suaranya masih kedengeran. Tika yang tomboy abis, sebenarnya dia pengen ngomong sesuatu kepada temen-temen “Kak, gelangnya masih disimpen kan?”. Dan tak ketinggalan buat adik-adik yang sering belajar di posko, sebenarnya kakak-kakak ini pengen adik-adik belajar yang rajin, Biar nanti kalau adik-adik sukses, kakak bisa lihat adik di layar kaca Televisi. Buat Ibu Sulipah, “Bu, semangat Kartini Ibu adalah kebanggan bagi kami, semoga Ibu selalu sehat-sehat saja”.

Terima kasih semua, terima kasih atas 35 hari di kaliwungu, Kudus.


Februari 2008

Februari 2008 lalu, hidupku lagi berpihak pada cinta. Ini bukan kisah cinta pertamaku, tapi ini adalah pelajaran bagiku. Cinta ini seperti khalayak umumnya dimana antar jenis manusia memberikan respon positif (karena hanya keindahan-keindahanlah yang hadir disana). Februari kemarin masih mengasihiku dengan kabisatnya, sehingga aku masih bisa menikmatinya hingga ke-29 (hari akhir penghujung februari). Februari itu aku dikenalkan dengan Alam Nasyrah seutuhnya. Ya, intisari surat Makkiyah ini pada ayat yang kelima.

“… karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.

Alam Nasyrah seakan mengingatkan dengan artinya bahwa bukankah Kami telah melapangkan. Ya Robb… semoga Paduka berkenan mengingatkanku dari waktuku yang konyol.

Februari 2008 lalu, genap satu bulan aku mengganti nikotin dalam tubuhku dengan air putih hangat. Kesegarannya menjadikan tubuhku hangat. Sehangat februari kala itu.

Februari 2008 lalu, aku tidak ingin pisah darinya. Setidaknya hanya untuk mengetahui keadaanya. Aku tidak bermaksud untuk mengusik setelah februari itu. Mungkin aku akan tenang jika februari itu menyapaku kembali. Bukan karena ingin kembali seperti dulu, hanya karena keikhlasan hati untuk mengganti status yang tidak jelas ini.

Februari 2008 lalu, aku “mengenalnya” dan akan mengingat februari itu.