Iyum

Senyumnya sekarang menyusut: menguap berupa-rupa canda menjadi keseriusan. Aku mencoba membuatkan parodi atau sekedar berbagi senyum dengan perempuan itu. Berharap agar senyumnya yang menyusut itu bisa berseri kembali. Tapi, hal itu tidak berdampak besar baginya. Tiba-tiba ia berkata padaku, “Bolehkah kita saling bertukar kehidupan? hanya untuk sebentar saja.”

Serentak aku kaget atas tawarannya. Untuk sejenak aku diam, lalu menebak-nebak dalam batin apa yang menjadi tanda tanya pada kehidupannya. Apakah dia sedang mengalami broken home? atau sedang menghadapi masalah dalam karir cintanya? atau masalah-masalah lain? Sungguh aku tak tahu. Semuanya masih terlihat samar-samar bagiku.

“Halah lupakan saja, yang barusan hanya ngaco.” Sambil menutupi galaunya dengan sedikit senyuman.

“Ada apa dengan kehidupanmu?” tanyaku dengan serius.

“Gak usah dipikirin, aku hanya bergurau tadi.”

“Empat tahun, sudah lebih dari cukup untuk mengenal tabiatmu. Ada apa yang sebenarnya terjadi padamu?”

Perempuan yang bernama Iyum itu, dia perlahan-lahan mengatur bafas. Dari wajahnya terlihat jelas  sepertinya ia ingin meletakkan beban berat yang selama ini menindihnya.

” Aku sudah lelah dengan kehidupanku. Aku ingin istirahat sejenak.”

“Istirahat sejenak” Ucapannya itu kini membuatku membeku. Aku merasakan ngilu akan kehidupannya. Tanpa mengharap balasan, dengan senang hati aku akan meminjamkan punggungku untuk melepas tangisnya.

Mendengar kisahnya, saat awal kali Iyum harus menunda Hubungan Internasional dengan Univesitas Gadjah Mada. Kini harapan itu semakin menyempit seiring usianya yang mengikuti perjalanan hari. keadaan memaksanya untuk mencari satu demi satu butir butir beras di sebuah perusahaan optik yang berada di batam. Kemudian, belum lama ini ia menjadi dampak dari sebuah permasalahan keluarga walaupun tidak sedikitpun ia membuat kericuhan.

Sekarang ia sudah merasa lelah. Sejenak ia ingin meletakkan kehidupannya dan berharap ada angin bertiup yang menyapu debu-debu dalam kehidupannya.

“Bolehkah aku menukar kehidupanku?”

Kembali ia memintaku. Dan aku tidak bisa berkata. Hanya anggukan yang bisa aku lakukan. Tak tahu seperti apa kehidupan yang ia inginkan. Aku tak begitu memperdulikan itu. Aku hanya berharap, semoga senyumnya bisa kembali.

Iklan

About Agung Budi Prasetya

ennthewee adalah seorang rakyat jelata dengan pertanda nama "Agung Budi Prasetya". saya ingin membagi kisah kepada temen-temen dimana setiap petikan dari hidup ini dapat memberikan makna bagi kita agar dapat menjadi referensi bagi kehidupan kedepan yang lebih baik, Amin... Lihat semua pos milik Agung Budi Prasetya

6 responses to “Iyum

  • Adi

    wah..
    Dalam sekali..
    Kia harus bersyukur atas apa yang sudah kita dapat…

    Salam…

  • darahbiroe

    kalau tidak ada angin yang tertiup lembut
    nanti aku bawakan kipas angin heheheh
    smngat
    😀

  • jupaja

    kehidupan di dunia hanya sekali. keep fighting and keep your smile 🙂

  • mirnarizka

    Jujur, terkadang saya juga merasakan hal yang sama dengan Iyum. Bukan, saya bukan ingin mati. Hanya ingin waktu berhenti sejenak saja agar saya dapat bernafas dengan lega sebentar. Pikiran itu muncul jika banyak hal terjadi hampir bersamaan.
    Mungkin yang bisa dilakukan hanya berserah diri. Serahkan saja semuanya pada Yang Di Atas. Anggap saja, semua yang sedang terjadi ini adalah salah satu yang Ia ingin tunjukkan pada kita, bahwa kita ini sungguh tidak berdaya. Kita ini tidak memiliki kemampuan apa-apa.
    Saat pasrah itulah, saya merasa tenang kembali. Saya berpikir dalam hati, “Selama Alloh masih menjadi Alloh, masih menjadi Sang Penggenggam Nasib, saya tetap akan percaya”.
    Lalu, saat semua mereda dengan sendirinya, saya pun tersadar. Saya ini memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dibanding kuasa-Nya.
    Tolong sampaikan pada temanmu, ia tak sendiri. Alloh tak pernah memberi cobaan melebihi yang bisa ia tanggung. Yakinlah akan itu…

  • Agung Budi Prasetya

    @adi: iya bener di, kta musti tetep bersyukur ma hidup kita…

    @drh biru: wokey coy, tak tunggu kipas anginnya ya, hehehe

    @jupaja: Yupz, tetep semangat….

    @mbak mirna: makasih mbak, udah tak sampaikan pesen mbak…

  • phia

    Semua orang pasti pernah mengalami masa-masa tersulit dalam hidupnya. Selalu. Dan setiap kita berhasil melewati 1 masa tersulit itu, masa tersulit yang lain akan datang. Dan saya juga pernah mengalami itu. Bahkan, saat ini sedang menjalaninya. Tapi saya yakin, Tuhan Maha Adil. Mari sama2 meyakinkan diri, bahwa cepat atau lambat, semua akan berlalu dan akan berganti dgn balasan Tuhan khidupn yg lbh baik… 🙂
    Salam buat temannya ya, mas agung.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: