Surat Untuk Sahabat

Salam hangat untuk sahabatku. Beribu syukur aku panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan kasih sayang-Nya bahwa aku diberikan-Nya seorang sahabat sejati.

Awal aku mengenal dengan sahabatku ketika sama-sama berangkat kuliah dengan berjalan kaki. Kita sering berangkat dan pulang kuliah bareng. Kedekatan persahabatan kita dimulai ketika aku dijerumuskan untuk menjadi Ketua Pemira (Pemilu Raya) Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak Undip. Saat itu aku tidak mengerti apa-apa tentang caranya mengurus orang. Sungguh aku dibuat pusing saat itu, tapi dari situ aku merasakan ada sesuatu yang berharga dalam hidupku. Kemudian hubungan kita berlanjut sampai dengan sama-sama menjadi anggota BEM Fapet periode tahun 2006 dan 2007. Dengan begitu diam-diam dia menanamkan racun  idealism hidup untuk menjadi manusia seutuhnya. Aku ditunjukkan indahnya menolong antar sesama, keikhlasan, kesabaran, kesetiaan dan arti kejujuran. Dia pernah berkata “Teman sejati akan selalu ada disaat kita sedang senang maupun duka”. Dia membuktikan semuanya itu dengan membelikanku obat saat aku sakit, mengajakku makan saat aku kehabisan uang saku, membantu menyelesaikan tugas-tugas kuliahku dan mengajakku jalan-jalan ke berbagai tempat. Sampai-sampai malaikatpun dibingungkan dengan masalah pembukuan hutang-piutang yang kami anggap sudah lunas walaupun kuantitas hutangku lebih besar dibandingkan dia. Sahabatku ini adalah orang yang pintar, tetapi dia rela menungguku selama satu semester agar dapat wisuda bersama. Jika diuangkan, berapa duit yang dia habiskan untuk membayar biaya kuliah satu semester, biaya hidup dan mungkin banyak lagi biaya yang lain yang aku tidak tahu. Hanya untuk seorang sahabat. Sekarang, akan ada rencana besar lain darinya untuk seorang sahabat. Akan ada berjuta-juta rupiah yang akan dia keluarkan untuk mengajarkan aku arti kemandirian dan menolong terhadap sesama. Aku yakin, dia pasti tidak akan terlalu memperdulikan itu karena dia hanya memikirkan bagaimana caranya kehidupannya bermanfaat bagi orang lain dengan salah satunya melalui aku.

Kebersamaan kita dulu sampai sekarang masih sangat terasa. Kita sering membeli buku di toko buku Gramedia ataupun Gunung Agung, tawaf saat malam minggu di Simpang Lima, nongkrong di angkringan sampai larut malam, diskusi permasalahan kemajemukan persoalan hidup manusia. Aku akan merindukan saat-saat itu bersama sahabatku. Pertemuan kita yang terakhir, dia berpesan kepadaku untuk jaga diri baik-baik. Hatiku mengatakan dia akan pergi untuk waktu yang tidak ditentukan. Pergi dari kehidupan persahabatan kita. Akan tetapi dia juga berjanji untuk menemuiku lagi entah kapan waktunya. Demi persahabatan kita, aku akan selalu mendoakan kepergianmu. Pergi untuk meraih cita-cita. Baik-baiklah disana. Aku akan menunggumu. Disini, sahabatmu akan selalu ada kapan engkau butuh. Selamat jalan sahabatku.

Salamku kepada sahabat sejatiku, Rizki Salaamun.

Iklan

About Agung Budi Prasetya

ennthewee adalah seorang rakyat jelata dengan pertanda nama "Agung Budi Prasetya". saya ingin membagi kisah kepada temen-temen dimana setiap petikan dari hidup ini dapat memberikan makna bagi kita agar dapat menjadi referensi bagi kehidupan kedepan yang lebih baik, Amin... Lihat semua pos milik Agung Budi Prasetya

5 responses to “Surat Untuk Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: