Monthly Archives: Mei 2010

Baju Safari

Setelah lulus kuliah, Sari ingin membeli baju safari di toko itu. Namun Sari mengurungkan niatnya, karena harga bajunya ratusan juta rupiah.

“Ajang fiksimini yang diadakan wi3nda sangat seru. Oleh karena itu tulisan ini aku ikutsertakan dalam ajang fiksimini untuk meramaikan dunia sastra indonesia”.


Malam

Malam tidak mengenal asap knalpot. Karena malam sudah terkontaminasi oleh semilir angin yang lembut. Suara bising kendaraan juga telah tergantikan oleh suara jangkrik dan kodok yang cerewet. Mereka teriak-teriak tidak karuan. Gerombolan kucing rupanya dibuat kelabakan membanting tulang mencari tikus-tikus guna mencukupi nafkah diri dan anak-anaknya. Aku suka dengan keberadaan mereka malam ini. Mereka telah membuat aku benar-benar merasakan tenang.

Kehadiran mereka akan selalu aku nantikan disaat malam nanti, semilir angin, teriakan jangkrik dan kodok, serta kucing dan tikus itu.


Kaliwungu, Kudus

Mbah sarni dan Tika, Ibu Sulipah, Lentog, Soto kerbau, Simpang tujuh, Menara kudus, Honocoroko dan ke-8 temen (Yogi, Ikhsan, Mamad, Nanda, Rena, Maya, Nat-nat dan Yuyun). Semuanya adalah kenangan waktu KKN bulan Januari-Februari 2009 kemarin. Aku merindukan kalian semua.

Sudah satu tahun lebih kita tidak satu atap lagi. Dan tidak akan mungkin satu atap lagi dalam waktu yang lama walaupun dipaksakan seperti apapun juga. Aku ingat betul buku diary desa kita, buku itu merupakan jembatan bagi kita untuk bertegur-sapa dan berkeluh kesah. Rena yang menggebu-gebu menumpahkan kekesalannya pada buku itu sewaktu lampu rumah mati (Yang sabar ya Ren, itu tandanya Negara ini membuktikan kalau masih peduli terhadap pemanasan global melalui program pemadaman listrik bergilir). Kordes yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu pada teman-temannya (Temen-temen Amyaw, besok ngajar WB lagi nyok, trus jalan-jalan deh, hehe). Korcam yang sebenarnya pengen berpesan (Besok kalau bangun pagi ya, ntar goreng pisang gi, hmmm… nyam….3x). Yuyun yang selalu kelihatan ceria, tapi dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu buat mbah sarni (Mbah Sarni, maapin yuyun ya, suara yuyun selalu menemani embah bobo). Maya yang energik (Hey mad ma nanda, awas ya kalian. ntar ga tak ajak senam di balai desa lagi). Mamad yang mendapat kenalan baru (Amyaw, kenapa engkau mengunjungiku melalui pesawat telephon saja). Natali yang suka menyanyi (Yog yog, besok agenda kecamatan apa lagi?). Nanda doyan banget tidur (Gung, ntar pasang alarm jam 3 pagi ya, aku pengen bangun pagi-pagi, hehe). Dan tidak ketinggalan aku (Temen-temen, Agung balik dulu ke semarang ya, jaga rumah baik-baik, hehehehehe).

Temen-temen pasti akan mengingat itu semua, dan mbah sarni mungkin sekarang menanyakan temen-temen semua. Dimana kalian cu, tapi kok suaranya masih kedengeran. Tika yang tomboy abis, sebenarnya dia pengen ngomong sesuatu kepada temen-temen “Kak, gelangnya masih disimpen kan?”. Dan tak ketinggalan buat adik-adik yang sering belajar di posko, sebenarnya kakak-kakak ini pengen adik-adik belajar yang rajin, Biar nanti kalau adik-adik sukses, kakak bisa lihat adik di layar kaca Televisi. Buat Ibu Sulipah, “Bu, semangat Kartini Ibu adalah kebanggan bagi kami, semoga Ibu selalu sehat-sehat saja”.

Terima kasih semua, terima kasih atas 35 hari di kaliwungu, Kudus.


Malu

Kakak ku sangat sayang kepada adiknya. Dia pernah mengirim suatu pesan. Begini pesan singkatnya:

Rahmat Allah turun ke bumi pada sepertiga malam terakhir. Orang-orang yang lebih mempentingkan tidur nyenyak daripada beribadah kepada-KU, maka pengakuan cintanya kepada-KU hanyalah omong kosong. Bukankah tiap yang saling bercinta kasih selalu mencari waktu sunyi untuk berbisik pada kekasihnya? AKU sangat senang melihat kekasih-KU yang membayangkan kehadiran-KU dihadapannya, berbicara dari hati-kehati dengan-KU. Orang-orang yang seperti itu akan AKU tempatkan di dalam surga.

Kita dengan Rasul beda sedikit. Rasul dikit tidur, kita dikit-dikit tidur. Rasul dikit makan, kita dikit-dikit makan. Rasul dikit marah, kita dikit-dikit marah. Rasul dikit gurau, kita dikit-dikit gurau. Rasul dikit-dikit beramal, kita dikit amal. Rasul dikit-dikit korban, kita dikit pengorbanan. Kapan kita mengejar perbedaan SEDIKIT itu?

Aku memang pecinta Allah dan Rasul-NYA. Tapi aku belum pernah sempat berfikir sampai sejauh ini, seperti layaknya pecinta sejati. Aku dibuat malu oleh pesan itu. Malu yang tak terkira.


Satrio Prayogo, bukan Satrio Fajar

Departemen Minat dan Bakat atau yang biasa disebut Mikat adalah bidang di sebuah organisasi yang enjoy. Pada masanya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan -BEM FP- periode tahun 2007, saya mempunyai anggota tim berjumlah 7 orang termasuk di dalamnya ada saya. Setelah masa kepengurusannya selesai, saya berharap salah seorang dari anggota tim bisa meneruskan di kepengurusan BEM periode berikutnya. Alhasil ada dua anggota tim yang bersedia untuk menjabat kedua kalinya dan berada pada departemen yang sama di BEM periode tahun 2008. Mereka keduanya yang direncanakan masuk adalah bernama Setya Wijaya -Jaya- dan Satrio Fajar -Yoyo- dengan ketua departemen Si Jaya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan periode tahun 2008 telah terbentuk keanggotaan dengan saya menjabat sebagai komisi ahli. Disitu saya ditugasi untuk mengawasi kinerja beberapa departemen termasuk departemen mikat. Sudah tentu saya diberi tahu siapa2 saja yang menjabat dari masing-masing departemen. Departemen mikat memang sejak dulu boleh dikata departemen yang aneh karena banyak hal-hal konyol yang terjadi diakibatkan oleh pengurusnya belum begitu banyak yang pernah masuk BEM. Mereka masih awam dengan BEM apalagi dengan tugas-yugas kesehariannya. Jaya yang semulanya didaulat sebagai koordinator disini harus tersisih oleh M. Ikhrom Kurniawan -Ikhrom- karena Ikhrom lebih kapabel dibanding Jaya.

Rizki Salaamun -Rizki- adalah Ketua BEM periode ini mempunyai hubungan yang dekat dengan saya. Tidak menjadi persoalan yang serius apabila saya memasukkan anggota baru ke bawah departemen yang saya pimpin. Departemen Mikat BEM FP periode tahun 2008 beranggotakan Ikhrom sebagai ketua, Vera sebagai sekretaris, dan terdiri dari 3 orang staff Jaya, Dayu dan Satrio. Awalnya yang saya tahu adalah Satrio Fajar yang berada pada jajaran staff departemen itu seperti halnya temen-temen mikat lainnya. Setelah BEM ini mengadakan beberapa rapat pengurus, ada sesosok orang yang tinggi, gede, berpotensi brewoken itu orang tetapi selalu memasang tampang sok imut yang mengaku namanya Satrio Prayogo -Satrio-. Saya mengenalkan diri pada Satrio dan dari pengakuannya dia masuk di departemen mikat. Hampir minggu ke-2 kepengurusan BEM saya bertanya kepada Rizki tentang Satrio Prayogo.

” Riz, Satrio itu siapa? dia menjabat pada departemen apa?”

“Ga tahu Gung, bukannya dia ada di mikat? tapi Satrio Fajar dimana kok ga pernah kelihatan?”

“Itu yang saya bingung Riz, katanya dia masuk di mikat..”

“Waduh, kok aku ga tahu ya? hahahaha”

“Lho piye to ki, tak kira kamu yang masukin”

“Bukan aku, gini aja Gung, kita lihat dulu kerjanya seperti apa, kalo jelek kita depak aja dan cari gantinya, hehe…”

“Lha terus, Yoyo piye?”

“Kita tanyain lagi, mau masuk BEM ga? gitu aja..”

Setelah beberapa hari ternyata Satrio Prayogo masuk BEM karena dikasih tahu oleh teman saya yang sekelas dengannya yang bernama Puput. Puput adalah anggota BEM yang menjabat sebagai Sekretaris Departemen Kebijakan Publik atau biasa disebut KaPe. Puput ingin tahu siapa saja yang menjadi pengurus BEM dari temen se-kelasnya. Setelah dia tahu ada nama Satrio di departemen mikat, dia memberi tahu Satrio dan mengajaknya ikut rapat BEM.

“Waduh, ternyata kemarin nulisnya kurang lengkap hanya Satrio saja ga pake Fajar. Pantes di setiap rapat muncul Satrio Prayogo.” (pikir ku)