Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Sebuah Film yang mengajarkan kita Kepedulian Sosial

Aku suka dengan seni. Karena orang-orang yang mengabdikan hidupnya di bidang seni secara benar-benar, mereka telah memberi warna pada dunia. Semalam aku baru saja menonton film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” karya dari Deddy Mizwar. Disitu diceritakan kehidupan di Indonesia yang serba kesemrawutan. Muluk (seorang sarjana Ekonomi Manajemen) sibuk mencari kerja tak karuan. Kerjaan yang dirasa begitu sulit untuk didapat, muluk bertemu dengan copet pasar dan berniatan untuk mengubah manajemen hidup pencopet itu ke jalan yang benar. Disana muluk membawa teman sekampungnya Syamsul (sarjana Pendidikan) yang tidak percaya lagi dengan pendidikan dan Pipit (anak dari ustadz di kampungnya) untuk membantu niatannya itu.

Kawanan pencopet diubah hidupnya oleh muluk akan tetapi dengan modal uang yang didapat dari hasil mencopet. Muluk, Syamsul dan Pipit mengajarkan pada mereka pendidikan dasar dan ilmu agama. Alhasil kawanan pencopet itu berfikir dan sebagian dari mereka beralih profesi menjadi pedagang asongan. Akan tetapi ayahanda muluk (Deddy Mizwar) setelah mengetahui pekerjaan anaknya itu, sang ayah tidak merestuinya. Dan saat pencopet itu menjajakan dagangannya mereka dikejar-kejar satpol-PP akan tetapi muluk berhasil mencegahnya dan muluklah yang ditangkap oleh satpol-PP itu.

Tulisan saya diatas memang dirasa hanya biasa-biasa saja. Saya melihatnya Deddy Mizwar banyak memberikan banyak pertanyaan dari filmnya.

  1. Muluk, Syamsul dan Pipit bukanlah orang yang kaya. Salahkah dia menyadarkan kawanan pencopet itu kembali di jalan yang benar akan tetapi modal yang mereka punya hasil dari mencopet?
  2. Setiap orang memiliki keinginan untuk lebih baik, karena setiap orang memiliki kalbu. Bagi pencopet itu, hanya dari mencopetlah mereka mempunyai penghasilan, karena awalnya mereka sangat awam sekali untuk berubah apalagi mencari rejeki yang halal untuk memulai hidup yang lebih baik. Apakah pencopet itu tidak boleh untuk menentukan nasibnya sendiri? Dimana peran pemerintah di negeri ini?
  3. Setelah pencopet itu sadar, pencopet itu harus berjibaku melawan satpol PP untuk menyelamatkan hidupnya. Dimanakah keadilan di negeri ini?

Iklan

About Agung Budi Prasetya

ennthewee adalah seorang rakyat jelata dengan pertanda nama "Agung Budi Prasetya". saya ingin membagi kisah kepada temen-temen dimana setiap petikan dari hidup ini dapat memberikan makna bagi kita agar dapat menjadi referensi bagi kehidupan kedepan yang lebih baik, Amin... Lihat semua pos milik Agung Budi Prasetya

5 responses to “Alangkah Lucunya (Negeri Ini), Sebuah Film yang mengajarkan kita Kepedulian Sosial

  • hellgalicious

    gue blom liat filem ini

    salam knal bro!

  • Agung Budi Prasetya

    selamat menonton sob, nanti kita berbagi kisah fikmnya.. salam kenal juga,

  • aguung

    wah? baru tau ada film itu.. cari dvd nya ada ga ya?

  • gladi

    aladdin juga awalnya pencopet… dikejar-kejar polisi karena mencuri buah dan roti untuk dimakan.. disebut-sebut di film sebagai “diamond in the rough” dan lolos masuk ke gua harta karun karena dia “diamond in the rough” yang mungkin maksudnya “orang baik, jujur dan berpotensi besar”.
    Lalu Aladdin menikah dengan princess dan jadi pangeran.

    Dan ini adalah film buat anak2 yg seharusnya menawarkan nilai moral yang tinggi!

    Belum lagi film “robin hood”…

    Menggambarkan bahwa seniman dunia barat menghargai manusia itu tidak sempurna dan suatu pelanggaran bisa saja menjadi halal asal ada suatu alasan yang benar (yang lebih besar daripada pelanggaran tsb).

    What do u think?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: