Monthly Archives: Maret 2010

Tahu Gimbal

Johar dulunya pusat kota semarang. Disana ada Masjid Agung kota semarang dan alun-alun tentunya. Kawasan kota lama juga tidak jauh dari sana. Di johar aku menemukan makanan khas semarang. Namanya aneh, yaitu Tahu Gimbal. Padahal makanan ini atau tahunya tidak menyerupai rambut yang gimbal. Entah kenapa disebutnya tahu gimbal. Komentarku buat sang tahu, yang sabar ya nak, karena engkau telah mengenyangkan perutku walaupun orang-orang menyebutmu dengan sebutan tahu gimbal.

Makanan ini tidak jauh berbeda seperti pecel kebanyakan. Sama-sama terdapat sambal kacangnya yang melimpah ruah menutupi isinya. Isinya antara lain seperti kubis, lontong, bakwan udang, tauge, kerupuk, tomat, telor ceplok dan tahu goreng iris kecil-kecil tentunya. Rasanya makanan ini semua orang bisa membayangkannya, tetapi suasana siang hari di johar yang banyak lalu lalang kendaraan bermotor. Itulah yang paling berkesan. Jalanan yang terbuat dari paving dan berada di salah satu gang membuat tahu gimbal ini serasa spesial. Matahari yang waktu itu dengan kejamnya membuat panas daerah johar, terasa lezat makan tahu gimbal dan minum es teh di warung trotoar jalan johar.

Masih terasa benar lidah ini akan tahu gimbal dari johar.


Ibu

Malam ini aku sangat rindu dengan ibu. Sangat yang tak terkira. Apakah ibu baik-baik di rumah?

Buku diary dan telephon dari ibu tadi menuntunku kesini. Tempat kedamaian dari seorang ibu. Ibu… anakmu ini tau betul apa yang ibu rasakan sekarang. Maafkan ananda yang bandel ini. Sungguh aku tidak mampu berucap apa-apa. Terima kasih atas kesederhanaan yang ibu ajarkan kepada anak-anakmu. Karena ibu tidak akan terkalahkan dihati anak-anakmu ini. Terima kasih ya Robb…


Married Championship

Budaya ini sungguh aku suka. Aku rasa akan sulit dicari siapa pemenang dari kejuaraan ini. Berawal dari usulan dosen wali (Ibu Sri Kismiati) yang super gaul pada saat pertemuan perdhana satu angkatan. Married Championship akan memberi kenangan tersendiri bagi diriku, bagi kami protist’04. Kado pernikahan terindah dari teman-teman satu angkatan di bangku kuliah. Bagaimana tidak senang, sebuah thropy bergilir sudah menghampiri salah satu dari teman satu angkatan kami. Setelah ini thropy ini akan menuju kota Pati – Jawa Tengah pada tanggal 21 maret 2010 besok. Dua minggu kemudian thropy ini akan diperebutkan oleh Jepara dan Semarang. Congratulation buat teman-teman yang telah menjadi juara –Slamet Fuat, Dhika Maretha Arviana, M. Habli Mubarok dan Wina Metayani Harmoni-.

Married Championship merupakan salah satu simbol persaudaraan kita. Yang menyatukan kita antara hitam dan putih. Membuat kita bangga dan beruntung karena dulu pernah dipertemukan dalam protist’04. Very… very… very… happy yang tak terkira rasanya. Kawan, bagaimanakah rasanya thropy itu akan mampir dirumah kamu. Sungguh aku sangat ingin mengharapkan kehadirannya kelak.

Married Championship Protist 2004. Adalah sebuah penantian yang sangat.


Bersuci

Pesan dari guru ngajiku dulu masih terngiang-ngiang dalam kepalaku. bukan hanya wudhu saja yang akan membuat kita menjadi suci dari hadas. Coba kita perhatikan ilmu dari ‘bersuci’ itu sendiri. Bagaimana caranya bersuci dan syarat-syarat sarana untuk bersuci itu sendiri. Sebagai rukun sarat syahnya sholat, kita harus suci dulu ntah itu badan kita atau pakaian kita.

Yang saya baca dan saya tau, ambang batas air untuk bersuci adalah minimal 2 kulah (setara dengan bak penampung ukuran PxLxT 60x60x60 cm dengan air penuh). Itupun dengan syarat apabila kita wudhu, air yang membasuh badan kita tidak boleh menetesi air yang 2 kulah tersebut. Karena itu akan menyebabkan wudhu kita tidak syah. Sesuai dengan ketentuan dari wudhu tersebut, apakah pakaian kita yang biasanya sering kita kenakan untuk sholat, menghadap Yang Maha Kuasa juga sudah suci? bagaimana cara mencuci pakaian kita? Boleh dikata pakaian kita sudah tentu bersih, tapi sudahkah pakaian kita suci?

Melihat cara berwudhu itu, aku sangat berhati-hati dengan yang namanya mencuci pakaian. Aku tidak membiasakan membilas pakaian hanya dengan se-ember air untuk membilas 1,2,3 atau berapapun jumlahnya pakaian yang aku cuci. Aku mencuci pakaian’ku dengan aku rendam deterjen dan untuk membilasnya, bilasan terakhir aku selalu mencari air yang mengalir. Dan itupun aku harus berhati-hati pula untuk tidak menetesi atau menciprati air bilasanku dengan pakaian yang sudah aku bilas sebelumnya. Aku pengen berbagi dengan temen-temen ilmu yang sederhana ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita.

Hanya ALLAH SWT sajalah yang benar, semoga aku senantiasa mendapat ridho-Nya, Amin…


Sang Penghibur

Jagad pertunjukkan pernah mereka gemparkan. Sebuah drama kehidupan berhasil mereka tontonkan sebagai karya seni yang memukau banyak orang. Mereka sadari atau tidak, aku melihatnya mereka banyak mengajarkan makna hidup yang sangat. Bang Beni memberitahu kita pentingnya pendidikan bagi setiap orang yang mendambakan kehormatan dimasa depan. Susah payah bang Beni menarik oplet untuk biaya kuliah Si Doel. Mungkin maksud beliau menginginkan gelar Ir. Kasdullah agar anaknya bisa bekerja di kantoran. Tapi makna terdalam dari itu adalah implementasi ilmu Si Doel-lah yang akan diganjar Tuhan kepadanya. Sungguh indah sekali orang yang tidak berpendidikan dapat merasakan kemuliaan hidup dari sebuah ilmu. Nyak (begitu Si Doel dan Atun menyebutnya) atau Mpok (begitu pula Mandra menyebutnya) adalah sesosok Ibu yang welas asih. Seorang ibu yang mengajarkan anak-anaknya menjalani hidup dengan berpedoman pada landasan agama, walaupun hanya dengan hidup ala kadarnya.

Si Doel adalah seorang manusia yang idealis. Dia memegang prinsip hidup benar-benar. Pekerjaan yang Sarah sodorkan melalui om Wisnu, dibuatnya sakit lahir dan batin dia. Dia tidak malu membawa gelar insinyur Teknik Mesin ke jalanan untuk menarik oplet. Ataupun membelah kayu untuk memasak Mak Nyak. Semuanya itu Si Doel lakukan dihadapan cewek (Sarah dan Jaenab). Begitu pula Atun yang menerima bulat-bulat takdir hidup keluarganya yang serba sederhana. Mandra dan Mas Karyo, perseteruan mereka sangat beragam. Ingin rasanya aku memohon kepada Tuhan agar perkelahian mereka berbuah pahala. Cek cok mulut yang sering mereka lakukan tidak mempengaruhi putusnya sebuah tali persaudaraan. Salut dibuatnya atas pertunjukkan yang mereka tontonkan. Sebuah pertunjukkan makna hidup yang hakiki.

Si Doel Anak Sekolahan, drama kehidupan yang sekarang teramat langka di setasiun televisi.