Aku biasa menyebutnya Orang ke-2. Dia nampak hitam legam dalam siang maupun malam. Saat aku melihatnya, aku diam lalu tertunduk dan menangis dengan sebab. Aku terdiam oleh hari-hari terpurukku yang sudah tak berbilang lagi. Orang ke-2 itu menunjukkanku dengan jelas kritikan orang-orang, kebimbangan hidup yang tak mempunyai ketegasan, waktu yang terbuang dan matinya nurani, dan yang paling jelas adalah ketololan diri.
Beranjak dari Orang ke-2, aku mencoba mencari Cahaya. Lalu aku menyalakan Metro-TV dan menemukan pekikan “Tiada yang membaikan selain dengan kebaikan. Orang yang berjalan dalam kebaikan, berarti berjalan bersama-sama dengan Tuhan. Seterjal dan setinggi apapun perjalan itu, Tuhan pasti akan menolongnya, karena dia berjalan bersama-sama dengan Tuhan dan Tuhan menyukai perjalanan itu. Jika orang ingin terus bersama-sama dengan Tuhan, maka berbuatlah kebaikan“. Lalu aku menyalakan laptop dan bertemu dengan L+ disana. L+ membuatku iri akan perjuangannya yang tak kenal lelah dan tak kenal malu. Rutinitas selama 24 jam yang dimilikinya berbanding terbalik dengan rutinitas 24 jam ku. Cahaya itu kini telah membuatku lebih baik.
Setelah itu aku sadar, kalau Orang ke-2 adalah bayangan diri ku. Beruntung sekali aku, karena Tuhan telah mempertemukanku dengan Orang ke-2.

